Tari Pada Kesenian Topeng Tambun
“Tinjauan terhadap fungsi dan makna Tari Topeng
Pada Kesenian Topeng Grup Candra Baga Tambun Kabupaten Bekasi”.
Oleh
Wisye Dini
(wisye_dini@yahoo.co.id)
Latar Belakang
Topeng Tambun termasuk salah satu topeng Betawi, karena hidupnya di daerah pinggiran Betawi, dalam pertunjukannya terdapat unsur tari, musik, lakon, sastra, dan seni rupa. Menurut Martaseli (79) kesenian topeng Tambun berasal dari Topeng Cisalak (Depok), yang diciptakan oleh Djiun dan Mak Kinang yang dalam penyajiannya terdapat pemakian kedok putih, kuning dan jingga. Dari kesenian topeng ini kemudian terlahir topeng Blantek yang diciptakan oleh Naim anak pertama Djiun yang meniru dari kesenian topeng Cisalak. Istilah blantek berasal dari kata blantakan yang artinya tidak berarturan. Kemudian Topeng topek Cisalak ini berkembang ke daerah lainnya, termasuk ke daerah Tambun Kabupaten Bekasi.
Seperti kesenian topeng Cisalak, dalam pertunjukan kesenian topeng Tambun senantiasa mepertunjukan tari yang dikenal dengan tari topeng. Menurut Pigeaud kata “topeng” berarti kedok yang menutupi seluruh wajah seseorang (Pigeaud). Tetapi dalam pertunjukan topeng di daerah pinggiran Betawi tidak semua tokoh-tokohnya memakai topeng, malah lebih banyak yang tidak memakai topeng, berbeda dengan topeng Cirebon yang penarinya memakai topeng. Dalam topeng Betawi yang memakai topeng adalah Topeng Tunggal (tari topeng yang memakai tiga kedok berwarna putih, kuning dan jingga) dan tokoh Jantuk. Menurut Marta Seli kata topeng digunakan untuk menyebut ronggeng topeng atau penari topeng, dan untuk menyebut pergelaran topeng secara keseluruhan.
Pada pertunjukan saat ini, secara garis besar struktur pertunjukan terdiri dari tatalu (muisk pembukaan, pertunjukan tari dan sandiwara atau penyajian cerita. Menurut Marta masyarakat Bekasi menyukai tariannya dari pada sandiwaranya, indikatornya setelah pertunjukan tari, banyak penonton yang meninggalkan tempat pertunjukan.
Dalam pertunjukan topeng terdapat beberapa tarian, tariannya ada yang tradisi ada yang kreasi baru. Yang tradisi antara lain Lipet Gandes (tari ronggeng dan bodor) dan Topeng Tunggal, sedangkan yang kreasi baru diantaranya Enjot-enjotan, Kang Aji, dan Blantek. Tari-tarian tersebut kini telah dijadikan bahan ajar di sekolah-sekolah SD, dan SMP.
Sebagaimana disebutkan di atas, tari topeng cenderung lebih diminati oleh masyarakat, mengapa tarian topeng lebih digemari dari pada pertunjukan sandiwaranya? Bagaimana fungsi dan maknanya ?, merupakan masalah yang perlu jawabanya.
Rumusan Masalah
Pokok permasalahan yang kan dibahas difokuskan pada kondisi pertunjukan topeng pada saat ini . Untuk membahasnya akan menggunakan berbagai disiplin ilmu seperti antropologi, sosiologi, estetika, semiotika dan sumber-sumber lainnya yang kiranya dapat menunjang tulisan ini. Permasalahan penelitian ini akan di rumuskan dalam bentuk pertanyaan penelitian, sebagai berikut;
Mengapa penyajian tari lebih disukai dari pada pertunjukan sandiwaranya?
Bagaimana fungsi dan maknanya?
Tujuan Dan Manfaat
Pada intinya tujuan dan manfaat penelitian ini untuk menjawab pokok permasalahan guna memperoleh gambaran yang tekait dengan peristiwa pertunjukan topeng Tambun dan ingin menggali guna memperoleh gambaran pertunjukan topeng saat ini, fungsi, makna, nilai yang terdapat dalam kesenian topeng. Selain itu, dengan penelitian ini dapat memberikan informasi dan edukasi bagi aktivis seni, pemerhati seni, pemerintah, masyarakat serta insan akademis dalam upaya pelestarian dan pengembangan seni tradisi
Landasan Teori
Untuk mengkaji persoalan fungsi, penulis akan memakai teori fungsi Curt Sachs dalam bukunya History of the Dance (1963:5) mengutarakan, bahwa ada 2 fungsi utama dari tari yaitu 1) untuk tujuan magis 2) untuk tontonan. Gertrude Prokosch Kurath dalam sebuah artikelnya yang berjudul “Panorama of Dance Ethnology”, secara rinci mengutarakan ada 14 fungsi dari tari dalam kehidupan, yaitu 1) inisiasi kedewasaan 2) percintaan 3)persahabatan 4)perkawinan 5)pekerjaan 6)pertanian 7)perbintangan 8)perburuan 9)menirukan binatang 10)menirukan perang 11) penyembuhan 12) kematian 13)kerasukan 14) lawakan
fungsi seni pertunjukan menjadi dua kategori, yaitu kategori fungsi—fungsi primer dan kategori fungsi sekunder.
Setiap zaman, setiap kelompok etnis, serta setiap lingkungan masyarakat, mempunyai berbagai bentuk seni pertunjukan yang memiliki fungsi primer dan sekunder yang berbeda. Pembagian fungsi primer menjadi tiga berdasarkan atas siapa”yang menjadi penikmat seni pertunjukan itu. Hal ini penting kita perhatikan, sebab seni pertunjukan disebut sebagai seni pertunjukan karena dipertunjukkan bagi penikmat. Bila penikmatnya adalah kekuatan-kekuatan yang tak kasat mata seperti misanya para dewa atau roh nenek moyang, maka Seni pertunjukan berfungsi sebagai sarana ritual. Apabila penikmatnya adalah pelakunya sendiri seperti misalnya seorang pengibing pada pertunjukan tayub, ketuk tilu, topéng banjét, dogér kontrak,kliningrm bajidomn, dan discoteque (diskotik), seni pertunjukan berfungsi sebagai sarana hiburan pribadi. ]ika penikmat seni pertunjukan itu adalah penonton yang kebanyakan harus membayar, seni pertunjukan itu berfungsi sebagai presentasi estetis. Dengan demikian secara garis besar seni pertunjukan memiliki tiga fungsi primer, yaitu (1) sebagai sarana ritual; (2) sebagai ungkapan pribadi yang pada umumnya berupa hiburan pribadi;dan (3) sebagai presentasi estetis. Di lingkungan masyarakat Indonesia yang masih sangat kental nilai—nilai kehidupan agrarisnya, sebagian besar Seni pertunjukannya memiliki fungsi ritual. Fungsi—fungsi ritual itu bukan saja berkenaan dengan peristiwa daur hidup yang dianggap penting seperti misalnya kelahiran, potong gigi, potong rambut yang pertama, turun tanah, khitan, pernikahan, serta kematian; berbagai kegiatan yang dianggap penting juga memerlukan seni pertunjukan, seperti misalnya berburu, menanam-padi, panen, bahkan sampai pula persiapan untuk perang. Pada pertunjukan untuk kepentingan ritual ini penikmatnya adalah para penguasa dunia atas serta bawah, sedafigkan manusia sendiri sebagai penyelenggara lebih mementingkan tujuan dari upacara itu daripada menikmati bentuknya. Seni pertunjukan semacam ini bukan disajikan untuk dinikmati oleh manusia, tetapi justru harus mereka libati (Soedarsono, 1985: 5-22).
Fungsi primer yang kedua yaitu sebagai ungkapan atau hiburan pribadi.Keterlibatan penikmat sama dengan fungsi pertama. Seni pertunjukan jenis ini penikmatnya harus melibatkan diri dalam pertunjukan itu. Biasanya di Indonesia bentuk pertunjukan yang berfungsi sebagai hiburan pribadi disajikan oleh penari wanita, dan yang ingin mendapatkan hiburan adalah pria yang bisa menaribersama penari wanita tersebut. Di Jawa Tengah bentuk-bentuk pertunjukan seperti ini terkenal dengan nama tayuban dan lénggéran. Di Iawa Timur terdapat gandrung. Di Bali lazim disebut jogét. Di Sumatera terdapat ronggéng Malaya. Di Jawa Barat banyak sekali bentuknya, antara lain ketuk tilu, longsér,topéng banjét, brmgréng, rmiggéng gunung, dan yang paling mutakhir adalah jaipongan dan kliningan bajidoran atau kliningan jaipongan. Pria yang ingin rnenikmati 1enggak—1enggok penari wanita yang pada umumnya disebut ronggéng atau telédék (lédék) atau sindén—tatandakan serta lantunan nyanyiannya, harus meiibatkan diri dalam pertunjukan ini dan menari bersama penari wanita itu. Oleh karena itu jenis seni pertunjukan ini juga bisa dikategorikan sebagai seni yang dilibati (art of participation). Oleh karena pertunjukan ini hanya dinikmati sendiri oleh pelakunya, bentuk ungkapan estetisnya tidaklah penting.Biasanya asal penari pria itu bisa mengikuti irama musik yang mengiringi pertunjukan itu,ia sudah puas. Setiap penari pria yang menari bersama penari wanita yang menghiburnya memiliki gaya penampilan sendiri-sendiri
Seni pertunjukan yang berfungsi sebagai penyajian estetis memerlukan penggarapan yang sangat serius dan kadang kadang juga rumit, oleh karena penikmatyang pada umumnya membeli karcis, menuntut sajian pertunjukan yang baik. Di Indonesia seni pertunjukan sebagai penyajian estetis mulai muncul pada akhir abad ke-19, ketika di beberapa wilayah tumbuh kota-kota yang para penghuninya dalam hidup mereka tidak tergantung pada pertanian. Mereka itu adalah para karyawan pemerintah, para pengusaha, para karyawan perusahaan, para guru sekolah, para pemilik toko, para bankir, serta para pedagang. Sebagai makhluk yang rnerniliki aesthetic behavior atau perilaku estetis yang secara naluriah ingin menikmati sajian—sajian estetis, rnasyarakat kota atau urban itu memerlukan bentuk-bentuk pertunjukan yang menghibur, yang bisa dinikmati dengan membeli karcis kapan saja dan di mana saja. (Tati Narawati, Soedarsono, 2002: 199-215).
Seangkan untuk membahasa persoalan makna akan menggunakan teoi makna Menurut Marcel Danesi dalam bukunya Pesan, Tanda dan Makna, kata makna yang dalam bahasa Inggris disebut meaning adalah konsep bahwa segala yang eksis memiliki maksud atau tujuan di luar keberadaannya semata.(Marcel Danesi, 2004 : 373). Menurut Purbo Hadiwidjoyo MM., dalam bukunya yang berjudul Kata dan makna, dalam ilmu bahasa terdapat tujuh jenis makna, Pertama makna beranggitan (conceptual meaning). Ini tak lain ialah makna yang masuk akal, yang menunjuk kepada apa yang sebenarnya dimaksudkan. Makna itulah yang membuat kita mampu berkemunikasi. Kedua istilah makna menali (associative meaning). Jenis ini kemudian dapat dibagi lagi ke dalam makna bernilai rasa (conatative meaning), makna kelompok (sosial meaning), makna tersantir (reflected meaning), makna kenaan (affective meaning) dan akhirnya, makna sepemanggil (collocative meaning). Makna yang bersifat rasa dapat juga disebut ujung terbuka. Pada hakikatnya, ini sama saja dengan pengetahuan kita mengenai alam semesta yang berujung terbuka. Makna kelompok dan makna kenaan menyangkut dua segi dalam kita berkomunikasi. Makna kelompok menyampaikan kepada pihak penerima pesan ihwal lingkungan kelompok kita. Makna kenaan digunakan untuk menyatakan persaan kita. Makna tersantir dan makna sepemanggil bersangkutpautan dengan kata atau kosakata yang digunakan dalam berbahasa. Makna bertema (thematic meaning) adalah makna yang dgigunakan dalam mengkomunikasikan pesan. (Purbo Hadiwidjoyo MM., 2012 : 29-30).
Metode Penelitian
Metode yang digunakan adalah metode kualitatif, metode ini disebut juga metode artistic, karena proses penelitian lebih bersifat seni dan disebut juga metode metode interpretative karena data dari hasil penelitian lebih berkenaan dengan interpreatsi terhadap data yang ditemukan di lapangan. (Sugiyono, 2012 : 7-8).
Penelitian ini dilakuakan melalui beberapa tahapan yaitu ; persiapan, penelitian lapangan,pengolahan data, sutdi pustaka, dan penyusunan laporan. Langkah-langkah strstegis yang dilakukan sebagai berikut :
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi, wawancara, observasi, studi kepustakaan dan studi dokumentasi.
2. Observasi Atau Pengamatan
Agar data terjamin akurasinya, maka dalam penelitian ini melakukan observasi atau pengamatan ke lapangan, dengan menyaksikan pertunjukan dan peristiwa budayanya. Hasil dari pengamatan ini dijadikan sebagai data kajian.
3. Studi Dokumentasi
Studi dokumentasi pada dasarnya untuk mengumpulkan data-data tertulis termasuk audio visual, seperti literatur-literatur baik berupa buku, artikel-artikel dalam jurnal , Koran, majalah CD/VCD,, yang akan dijadikan sumber rujukan. Guna memperoleh data yang valid.
Analisis Data
Data yang telah terkumpul dianalisi, dengan langkah kerja di awali dengan pengumpulan data, dilanjutkan dengan reduksi data, verifikasi atau penarikan kesimpulan.
Pembahasan
Dugaan sementara
Faktor penyebab tari lebih disenangi, karena aspek tarian lebih dinamis perkembangannya, dari pada sandiwaranya yang cenderung statis, serta secara durasi tarian lebih singkat dan pemainnya pada umumnya wanita belia.
Fungsi sebagai pelengkap pertunjukan topeng, pertunjukan khusus, dan hiburan
Makna : Sosial, Budaya , Ekonomi, Estetika dan Pendidikan Nilai-nilai
Daftar Bacaan.
Danessi Marcel
2012 Pesan, Tanda & Makna, Yogyaakarta, Jalasutra,
Hadiwidjoyo MM Purbo
2012 Kata dan Makna, , Bandung, ITB
Merriam Alan P. Terjemahan Triyona Nramantyo
1999/2000 Antropologi Musik, judul asli The Antropology Of Musik, Yogyakarta, Institut Seni Indonesia
Narawati Tati, Soedarsono RM
2005 Tari Sunda Dulu, Kini, Esok, Bandung Past UPI.
Pegeaud
1938 Pertunjukan Rakyat Jawa Sumbangan Bagi Ilmu Antropologi, terjemahan KRT Muhamad Husodo P., Surakarta, Perpustakaan Rekso Pustaka