Tuesday, November 25, 2014

SERAT-SERAT BUDAYA JAWA BARAT DAN PANDANGAN KRITIS TERHADAP KESENIAN

 Arthur S Nalan

“Semboyan” bhineka tunggal ika” memang selalu mengingatkan kita bahwa negara
kesatuan itu ada karena disangga oleh unsur-unsur yang berbeda. Adapun unsur-unsur
yang berbeda tersebut adalah serat-serat budaya yang sudah berakar dalam pada
masing-masing penyangga republik ini. Adapun serat-serat budaya itu adalah bahasa
ibu di daerah kita, nilai-nilai benar-salah, indah-buruk, pantas-tidak pantas, konsep-
konsep tentang kekuasaan, kedudukan penguasa,_ kedudukan rakyat, ekspresi
kesenian dan sebagainya |agi” (Kayam, 1990).
Kutipan tersebut mengingatkan kita untuk menyadari bahwa serat-serat budaya
yang telah menjadi milik kita telah ada dan tersebar dengan ciri khas sendiri-sendiri.
Milik kita yang memeriukan Sikap dan pandangan kritis didalam memperlakukannya,
terutama kaitannya dengan menumbuh kembangkan identitas nasional. ldentitas
nasional adalah"suatu kualitas batiniah yang disetujui oleh sebagian besar lapisan
suatu bangsa dan dituntut sebagai milik mereka yang khas.”
Masyarakat Jawa Barat pada awa\nya dapat dikategorikan sebagai masyarakat
Iadang (huma) bahkan sisa masyarakat Iadang yang khas sampai sekarang masih
terdapat di daerah Kanekes (Baduy). Pengaruh pola berladang masih terlihat di
beberapa tempat di Jawa Barat, di mana masih terdapatnya orang ngahuma. Sikap
yang paling menonjol dari masyarakat \adang ialah kebiasaan suka berpindah tempat
tinggal untuk mengikuti garapan ladangnya. Sekaiipun kini sudah tidak menggunakan
pola Iadang berpindah, karena semakin terbatasnya Iahan dan pembagian wilayah-
wilayah hunian. Corak hidup demikian mengakibatkan pola berfikir dan cara hidup dan
kebudayaan mereka sederhana, karena keseluruhan hidupnya dipengaruhi oleh cara
hidup mereka sehari-hari yang berpindah-pindah. Di samping itu masyarakat Jawa
Barat sangat erat dengan aiam sekitarnya. Pengaruh Hora cukup menonjol dengan
banyaknya tempat yanng diberi nama tanaman, bahkan telah berkembang menjadi
nama-nama kecamatan, desa, kampung yang jumlahnya bisa mencapai ribuan. Tradisi
pemukiman pada aliran sungai menggejala dalam sistem toponimi.

BERSAMBUNG....

No comments: